BANYUWANGI|mandhala.info – Menyambut peringatan Bulan Bung Karno, momen bersejarah bagi bangsa Indonesia, I Made Cahyana Negara, S.E. — Ketua Dewan Kehormatan sekaligus Ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi dari DPC PDI Perjuangan — menyampaikan pernyataan politik yang tegas dan berakar kuat dari pemikiran besar Proklamator Ir. Soekarno.
Dalam pesan yang disampaikan melalui pamflet resmi bertema merah semangat, I Made Cahyana Negara menegaskan bahwa semangat Bung Karno bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan kompas arah perjuangan masa kini.
“Mewarisi Semangat Proklamasi, Mengabdi untuk Rakyat dan Nusa Bangsa”, menjadi landasan utama yang ia pegang sebagai amanah politik dan tugas negara.
Sebagai pemimpin lembaga legislatif sekaligus penjaga etika dan kehormatan partai di tingkat daerah, I Made Cahyana Negara menekankan kembali ajaran pokok Bung Karno: Bahwa politik adalah pengabdian, bukan ladang kepentingan pribadi atau golongan.
“Bung Karno pernah mengajarkan: ‘Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.’ Di Banyuwangi, semangat ini harus kita nyatakan dalam tindakan nyata,” ujarnya.
Menurutnya, amanah yang diemban sebagai Ketua DPRD dan Ketua Dewan Kehormatan DPC PDIP Banyuwangi adalah bukti kesetiaan terhadap Tritunggal Marhaenisme: Nasionalisme, Internasionalisme, dan Demokrasi Terpimpin yang berkeadilan sosial.
“Bagi kami di PDI Perjuangan, Banyuwangi bukan sekadar wilayah administrasi, melainkan bagian tak terpisahkan dari tubuh Indonesia yang merdeka. Kita tidak boleh membiarkan kesenjangan tumbuh di tanah yang subur ini. Seperti kata Bung Karno: ‘Negara yang besar adalah negara yang menghormati rakyatnya.’ Maka, setiap kebijakan, setiap keputusan di DPRD harus berpijak pada kepentingan rakyat kecil, kaum marhaen,” tegasnya dengan nada penuh keyakinan.
Ia juga mengingatkan bahwa Bulan Bung Karno adalah momen untuk meneladani karakter berani, jujur, dan berdaulat. Menjadi penjaga kehormatan partai berarti menjaga agar partai tetap berjalan di atas rel perjuangan, tidak menyimpang dari tujuan awal: Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
“Politik bagi kami bukan seni kemungkinan, melainkan seni pengabdian. Seperti ajaran Bung Karno: ‘Janganlah hidupmu untuk mati sia‑sia, tapi hiduplah untuk sesuatu yang abadi.’ Pengabdian di Banyuwangi adalah jalan kami menuju keabadian itu,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, I Made Cahyana Negara mengajak seluruh elemen masyarakat, kader partai, dan seluruh pejabat di Banyuwangi menjadikan semangat Proklamasi sebagai kekuatan utama menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, persatuan adalah kunci, dan kemakmuran rakyat adalah tujuan akhir yang tidak boleh ditawar.
Dengan latar pemandangan ikonik Banyuwangi dan peta kebesaran Nusantara dalam pamflet tersebut, pesan ini menjadi deklarasi politik yang kuat: Di bawah panji Bung Karno, Banyuwangi tegak berdiri kokoh sebagai daerah yang berdaulat, berkeadilan, dan terus berjuang bersama rakyat.








