Kabut Asap Selimuti Kecamatan Subi, Jarak Pandang Nelayan Diperkirakan Hanya 100 Meter

Natuna | Mandhala.info— Kabut asap menyelimuti wilayah Kecamatan Subi, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian sejumlah nelayan setempat karena jarak pandang di laut dilaporkan cukup terbatas dan kabur.

Berdasarkan keluhan nelayan, jarak pandang saat kondisi kabut asap diperkirakan hanya sekitar 100 meter. Pandangan ke arah laut menjadi kabur sehingga nelayan harus lebih berhati-hati ketika menjalankan aktivitas, terutama bagi mereka yang menggunakan perahu kecil.

Bacaan Lainnya

Advertisement

Kondisi ini sangat dirasakan oleh nelayan pencari ketam yang setiap hari mengandalkan hasil laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kabut asap tidak hanya membuat aktivitas melaut menjadi lebih sulit, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan.

Salah seorang nelayan, Pelata dan Rical, mengaku kesulitan untuk melaut akibat kondisi tersebut. Namun, kebutuhan keluarga membuat dirinya tetap harus berusaha mencari penghasilan.

«“Sulit melaut. Kalau melaut pun terpaksa, anak istri mau makan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, demi memenuhi kebutuhan keluarganya, dirinya terpaksa turun melaut sekitar pukul 02.00 WIB, meskipun kondisi jarak pandang sedang terganggu oleh kabut asap.

Para nelayan pencari ketam juga mengeluhkan hasil tangkapan yang semakin sulit diperoleh. Untuk mendapatkan bubur ketam saja, mereka mengaku harus bekerja lebih keras, sementara hasil yang didapat belum tentu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Nelayan Minta Pemerintah Segera Perhatikan Kondisi Subi

Atas kondisi tersebut, para nelayan berharap Pemerintah Kabupaten Natuna dapat segera mengambil sikap dan memberikan perhatian terhadap keadaan masyarakat pesisir di Kecamatan Subi.

Mereka berharap pemerintah dapat turun melihat langsung kondisi di lapangan, terutama menyangkut keselamatan nelayan yang tetap harus mencari nafkah di tengah jarak pandang yang terbatas.

Kabut asap dengan jarak pandang yang diperkirakan hanya sekitar 100 meter tentunya membuat nelayan harus meningkatkan kewaspadaan. Terlebih bagi nelayan yang beraktivitas pada malam hingga dini hari.

Para nelayan berharap kondisi tersebut segera membaik dan pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari hasil laut.

Bagi masyarakat nelayan Subi, melaut adalah sumber utama penghidupan. Meski kondisi tidak mudah, mereka tetap berusaha turun ke laut demi memenuhi kebutuhan anak dan istri. Kini, mereka berharap keselamatan dan nasib para nelayan mendapat perhatian serius dari pemerintah.(Bani)

Advertisement

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *